TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH

Written By Malim Sempurna on Minggu, 21 Agustus 2011 | 22.41

TERLAHIR dengan nama Muhammad Daud (15 September 1899) di sebuah desa bernama Beureueh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Aceh Pidie. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan Islam yang taat dan berdisiplin tinggi. Ayahnya adalah seorang ulama yang oleh masyarkat setempat dijuluki dengan Imam di Beureueh. Ketika usia sekolah, oleh ayahnya, Daud tak dimasukkan ke sekolah-sekolah Belanda yang ada. Tapi ia disekolahkan di pesantren dimana ilmu-ilmu keislaman menjadi prioritas. Hal ini dilakukan karena ayahnya masih punya semangat yang tinggi agar anak-anaknya tak tersentuh oleh sistem pendidikan Belanda. Di zaman itu, setiap aktivis pergerakan punya pandangan yang hampir sama, bahwa kaum penjajah meski telah memberikan pendidikan buat kaum bumi putera, tapi jiwanya tetap sebagai penakluk, tak akan bisa mau total memintarkan warga dari anak jajahan.

Di pesantren itulah Daud mendapatkan ilmu-ilmu keislaman, seperti Bahasa Arab, tafsir, hadits, fiqih, tasawuf, dan sebagainya. Sejarah Islam pun ia dapatkan di sini. Meski hanya mengenyam pendidikan di pesantren, tapi karena ketekunannya dalam belajar, Daud mampu berkomunikasi dengan Bahasa Belanda. Di zamannya, Daud adalah anak yang cerdas dan giat belajar. Lembaga pendidikan yang pertama kali dimasukinya adalah Pesantren Titeue yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Hamid. Setelah belajar selama satu setengah tahun, Daud pindah ke Pesantren lie Leumbeue yang dipimpin oleh Tgk Ahmad Harun yang lebih dikenal dengan nama Teungku di Tenoh Mirah selama empat setengah tahun. Daru pesantren pula ia mendapatkan pelajaran bahwa menuntut ilmu itu adalah ibadah dan karena itu wajib hukumnya. Maka, kerja keras, disiplin, dan didukung oleh kecerdasan yang dikaruniakan Allah padanya, lengkaplah ia sebagai generasi pejuang yang berdakwah secara syar’i. Karena itu tidaklah mengherankan bila di usianya yang masih belia, 15 tahun, Daud sudah menjadi singa podium.

Pria berperawakan sedang berkulit cokelat itu dalam waktu yang relatif singkat telah menjadi seorang da’i yang kondang. Karena itulah ia akhirnya mendapat gelar Teungku di Beureueh. Sejak itu, orang tak lagi menyebut nama lengkapnya, tapi lebih pada nama desanya. Sedangkan gelar teungku ditujukan untuk seorang ulama. Ia pun dikenal dengan nama Daud Beureueh. Dakwahnya tak berhenti sampai di panggung saja. la juga berobsesi mendidik kaum muda, lewat lembaga pendidikan. Maka, pada tahun 1931, Daud mendirikan Madrasah Sa’adah Adabiyah, di Blang Paseh, Sigli. Waktu itu, masyarakat masih banyak yang menganut ajaran Al Halaj, seorang tokoh tasawuf dengan ajarannya wihdatul wujud dari Bagdad, Irak. Pada intinya, ajaran Al Hallaj itu meyakini bahwa Allah, Muhammad dan Adam hakikatnya adalah satu. Triftinggal itu ibarat kain, benang, dan kapas. Dengan dakwah yang berkelanjutan, penganut ajaran Al Hallaj itu akhirnya bisa dikikis, dan masyarakat tersadarkan akan kekeliruannya. Daud berhasil mengembalikan kesadaran masyarakat ke jalan yang benar.

Pamornya sebagai negarawan mulai terangkat ketika pada Mei 1939 didirikan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di Matang Glumpang Dua. Kongres ulama yang dipelopori oleh Teungku Abdurrahman itu mengantarkan Daud Beureuh sebagai ketua. PUSA adalah organisasi politik yang didirikan oleh para ulama. Karena arah politik di Aceh masih didominasi oleh para ulama, maka memimpin organisasi ulama sama dengan menjadi “bapak orang-orang Aceh”. Kehadiran PUSA di era penjajahan itu menorehkan sebuah cita-cita besar yang selalu diperjuangkan. Yakni, menegakkan keadilan di bumi Aceh dengan landasan syariat Islam. Tapi, cita-cita Daud tidak hanya untuk Aceh, juga Indonesia secara keseluruhan. Menurut Daud, orang non muslim tak perlu takut dengan syariat, karena Islam melindungi kaum minoritas dan dijamin kemerdekaannya untuk melaksanakan ajaran agama mereka. Ia memberi contoh di zaman raja-raja Islam yang pernah berkuasa di wilayah Aceh dan Timur Dekat. Tapi, menurut Daud, umat Islam tidak akan mendapatkan kemerdekaan sejati bila mereka hidup di sebuah negara yang tidak berdasarkan syariat Islam.

Cita-cita mulia dengan menegakkan syariat Islam itu perlu kerja nyata yang diwujudkan dengan cara mengusir segala bentuk penjajahan, baik di zaman Belanda, Jepang, maupun zaman revolusi fisik ketika Belanda mau mencengkeram lagi Republik Indonesia di awal kemerdekaan. Daud bersama pasukannya berjuang secara fisik. Atas jasa-jasanya itu, di awal kemerdekaan, Presiden Soekarno mengangkat Daud sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia yang ditempatkan di Aceh. Tak lama kemudian, oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, ia diangkat menjadi Gubernur Militer untuk Daerah Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dengan pangkat Jenderal Mayor Tituler. Pengangkatan ini karena jasa-jasa Daud yang berhasil mempersatukan semua kekuatan militer yang ada waktu itu. Mempersatukan kekuatan-kekuatan militer di Aceh adalah berkat jasa dari Daud. Pasalnya, ketika pemerintah hendak membentuk TNI, maka TRI (Tentara Rakyat Indonesia) digabung dengan laskar-laskar yang ada.

Pustaka
Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20 Oleh Herry Mohammad

0 komentar:

Poskan Komentar

Me

Foto Saya
Malim Sempurna Berasal dari Lae Mate, Kota Subulussalam - Aceh. Selama 5 tahun belakangan ini telah menetap di Mesir Okotober 2005 - sekarang

Pengikut

Arsip Blog

Sila Komen