
- masa kekuasaan bani umayyah
Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu Umayyah) atau
Kekhalifahan Umayyah,
adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang
memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta
dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari
nama tokoh Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama
Bani Umayyah, yaitu Muawiyah I.
Daulah Bani Umayyah (Masa Kemajuan Islam)
Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai
pada masa kekuasaan Muawiyah Ibn Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu, dimana
pemerintahan yang bersifat Islamiyyah berubah menjadi monarchiheridetis
(kerajaan turun temurun), yaitu setelah al-Hasan bin 'Ali Radhiallahu
‘anhuma menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah Ibn Abu Sufyan
Radhiallahu ‘anhu dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada saat
itu sedang dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman Ibn Affan
Radhiallahu ‘anhu, perang jamal dan penghianatan dari orang-orang
al-khawarij dan syi'ah.
Suksesi kepemimpinan secara turun temurun
dimulai ketika Muawiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu mewajibkan
seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid Ibn
Muawiyah Rahimahullah. Muawiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu
bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap
menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interprestasi baru
dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya
"khalifah Allah" dalam pengertian "penguasa" yang diangkat oleh Allah.
Ekspansi
yang terhenti pada masa khalifah Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi
Thalib Radhiallahu ‘anhu ajma’in dilanjutkan kembali oleh daulah ini. Di
zaman Muawiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu, Tunisia dapat
ditaklukkan. Di sebelah timur, Muawiyah Radhiallahu ‘anhu dapat
menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke
Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota
Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah
kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik Ibn Marwan Rahimahullah.
Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil
menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand.
Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind
dan daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekspansi ke barat secara
besar-besaran dilanjutkan di zaman al-Walid ibn Abdul Malik
Rahimahullah. Masa pemerintahan al-Walid Rahimahullah adalah masa
ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup
bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh
tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju
wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah
Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Thariq bin Ziyad Rahimahullah,
pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang
memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di
suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi
sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova, dengan cepatnya
dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville,
Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah
jatuhnya Kordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah
karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita
akibat kekejaman penguasa.
Di zaman Umar ibn Abdul-Aziz
Rahimahullah, serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee.
Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi
Rahimahullah. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia
mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar
kota Tours, al-Ghafiqi Rahimahullah terbunuh, dan tentaranya mundur
kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas,
pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke
tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.
Dengan keberhasilan
ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah
kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina,
Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah
yang sekarang disebut Pakistan, turkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia
Tengah.
Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga
banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah
Radhiallahu ‘anhu mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan
menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.
Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata
uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai
berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis
dibidangnya. Abdul-Malik Rahimahullah mengubah mata uang Bizantium dan
Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia
mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan
tulisan Arab. Khalifah Abdul-Malik Rahimahullah juga berhasil melakukan
pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa
Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan
Khalifah Abdul-Malik Rahimahullah diikuti oleh puteranya Al-Walid ibn
Abd al-Malik Rahimahullah (705-715 M) seorang yang berkemauan keras dan
berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk
orang cacat. Semua personel yang terlibat dalam kegiatan yang humanis
ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya
yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik,
gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
Meskipun
keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa
politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Karena Muawiyah Radhiallahu
‘anhu dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan al-Hasan bin Ali
Radhiallahu ‘anhuma ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa
persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah Radhiallahu ‘anhu
diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya
Yazid Rahimahullah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya
gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya
perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan. Ketika Yazid
Rahimahullah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau
menyatakan setia kepadanya. Yazid Rahimahullah kemudian mengirim surat
kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil
sumpah setia kepadanya.
Dengan cara ini, semua orang terpaksa
tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdulah Ibn Zubair Ibnul Awwam
Radhiallahu ‘anhuma ajma’in. Bersamaan dengan itu, kaum Syi'ah (pengikut
Abdullah bin Saba’ al-Yahudi) melakukan konsolidasi (penggabungan)
kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh
al-Husein ibn Ali Radhiallahu ‘anhuma. Pada tahun 680 M, ia berangkat
dari Mekkah ke Kufah atas tipu daya golongan Syi'ah yang ada di Irak.
Ummat Islam di daerah ini tidak mengakui Yazid Rahimahullah. Mereka
berusaha menghasut dan mengangkat al-Husein Radhiallahu ‘anhuma sebagai
khalifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karballa, sebuah
daerah di dekat Kufah, tentara dan seluruh keluarga Husein Radhiallahu
‘anhuma kalah dan al-Husein Radhiallahu ‘anhuma sendiri mati terbunuh.
Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di
Karballa.
Perlawanan orang-orang Syi'ah tidak padam dengan sebab
terbunuhnya Husein Radhiallahu ‘anhuma. Gerakan mereka bahkan menjadi
lebih keras, lebih gigih dan tersebar luas. Banyak pemberontakan yang
dipelopori kaum Syi'ah terjadi. Yang termashur diantaranya adalah
pemberontakan al-Mukhtar di Kufah pada tahun 685-687 M. al-Mukhtar (yang
pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari
kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia,
Armenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai
warga negara kelas dua. al-Mukhtar terbunuh dalam peperangan melawan
gerakan oposisi lainnya, gerakan Abdullah ibn Zubair Radhiallahu
‘anhuma. Namun, ibn Zubair Radhiallahu ‘anhuma juga tidak berhasil
menghentikan gerakan Syi'ah.
Abdullah ibn Zubair Radhiallahu
‘anhuma membina gerakan oposisinya di Mekkah setelah dia menolak sumpah
setia terhadap Yazid Rahimahullah. Akan tetapi, dia baru menyatakan
dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah al-Husein ibn Ali
Radhiallahu ‘anhuma terbunuh. Tentara Yazid Rahimahullah kemudian
mengepung Madinah dan Makkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun
tak terhindarkan. Namun, peperangan terhenti karena Yazid Rahimahullah
wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus. Gerakan Abdullah ibn
Zubair Radhiallahu ‘anhuma baru dapat dihancurkan pada masa
kekhalifahan Abdul Malik ibn Marwan. Tentara Bani Umayyah dipimpin
al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi berangkat menuju Thaif, kemudian ke
Madinah dan akhirnya meneruskan perjalanan ke Makkah. Ka'bah diserbu.
Keluarga Zubair Radhiallahu ‘anhuma dan sahabatnya melarikan diri,
sementara ibn Zubair Radhiallahu ‘anhuma sendiri dengan gigih melakukan
perlawanan sampai akhirnya terbunuh pada tahun 73 H/692 M.
Selain
gerakan di atas, gerakan-gerakan anarkis yang dilancarkan kelompok
Khawarij dan Syi'ah juga dapat diredakan. Keberhasilan memberantas
gerakan-gerakan itulah yang membuat orientasi pemerintahan dinasti ini
dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah
timur (meliputi kota-kota di sekitar Asia Tengah) dan wilayah Afrika
bagian utara, bahkan membuka jalan untuk menaklukkan Spanyol (andalus).
Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa
pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdul-Aziz Rahimahumullah (717-720 M).
Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan
meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada
menambah perluasannya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah
pembangunan dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat,
dia berhasil menyadarkan golongan Syi'ah. Dia juga memberi kebebasan
kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan
kepercayaannya. Zakat diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan
muslim Arab.
Sepeninggal Umar ibn Abdul-Aziz Rahimahullah,
kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid ibn Abdul-Malik
Rahimahullah (720- 724 M). Namun Sayang penguasa yang satu ini terlalu
gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat.
Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada
zamannya berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan
etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan
Yazid ibn Abdul-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa
pemerintahan Khalifah berikutnya, Hisyam ibn Abdul-Malik Rahimahullah
(724-743 M). Bahkan di zaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang
menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu
berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan
merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan berikutnya
kekuatan baru ini, mampu menggulingkan dinasti Umawiyah dan
menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn
Abd al-Malik Rahimahullah adalah seorang khalifah yang kuat dan
terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi terlalu kuat khalifah
tidak berdaya mematahkannya.
Sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik
Rahimahullah, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya
lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan
oposisi. Akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan Bani
Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani. Marwan II bin
Muhammad al-Himar Rahimahullah, khalifah terakhir Bani Umayyah,
melarikan diri ke Mesir, ditangkap dan dibunuh di sana.
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan
membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu
yang baru (bid’ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek
senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian
khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di
kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya
dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik
yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Abdullah bin
Saba’ al-Yahudi) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara
terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi
seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap
gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara
(Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman
sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para
penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan
kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab),
terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas
karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah
dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
4.
Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap
hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak
sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi
kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian
penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5. Penyebab
langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya
kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd
al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan
dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani
Umayyah. Wallahul Musta,’an.
Masa Berkuasanya Bani Umayyah di Andalus dan penerusnya
Masuknya Islam ke Spanyol (Andalus)
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah
(705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di
Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara.
Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang
dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad,
dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Spanyol diduduki
umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah
seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum
penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan
menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah,
Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah
Abdul Malik Ibn Marwan Rahimahullah (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik
Rahimahullah mengangkat Hasan ibn Nu'man al-Ghassani Rahimahullah
menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn
Nu'man Rahimahullah sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah.
Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah memperluas wilayah
kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko.
Selain itu, ia
juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa
Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan
berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah
mereka lakukan sebelumnya. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari
pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari
Khilafah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30
H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu) sampai
tahun 83 H (masa al-Walid Rahimahullah). Sebelum dikalahkan dan kemudian
dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi
basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini
sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan
Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai
memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian,
Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan
wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga
pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin
satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq
ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in. Tharif dapat
disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang
berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang,
lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki
empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu
Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke
Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya.
Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh
kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta
dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn
Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang
di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.
Thariq ibn Ziyad
Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair
Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid
Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan
Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq
dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama
Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah
pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu
tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ
Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting,
seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu).
Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia
meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika
Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel,
sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum
sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan
pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan
untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn
Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang
pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu
pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu
persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa
Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida
serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia
bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil
menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya,
mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah
berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz
Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk
menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan.
Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi
usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H.
Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah
al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu,
Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi,
diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel,
sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya
mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat
penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun
743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia,
Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke
tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari
penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M
ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau
Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal
itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal
yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah
suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa
penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan
ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik,
wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri
kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran
terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit,
apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi
yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis
menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara
brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga
keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan
persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti
kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang
Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin
mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam
segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di
jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan
tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam
kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat
perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi
tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri
Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun
711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum
kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan
ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat
dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah
pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian
maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena
didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah
Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan
kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar
tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan
daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya
kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan
oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa
pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.
Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan
ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat
itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja.
Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak
Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan
Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum
muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu
Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan
kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk
menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal
yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal
menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang
terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat
perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan
persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun
yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat
dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang
terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin
adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh
percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi
setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang
ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan
tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat
dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut
kehadiran Islam di sana.
Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)
Perkembangan Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh
setengah abad, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah
panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol ini dapat dibagi menjadi enam
periode, dimana tiap periode mempunyai corak pemerintahan dan dinamika
masyarakat tersendiri. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah
Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan
peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh
setengah abad sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol, itu
dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu
Pada periode ini Spanyol
berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani
Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik
negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih
terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam
antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama
akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan
pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang
berpusat di Kairwan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling
berhak menguasai daerah Spanyol ini.
Oleh karena itu, terjadi dua
puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang
amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya
terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis,
terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab
sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku
Quraisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini
seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur
yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada
gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang
agak lama.
1. Periode Pertama (711-755 M).
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang
bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah
mau tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri.
Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir
Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan
berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam
Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan
kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman al-Dakhil
ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini. Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang
bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat
pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di
Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun
138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia
adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani
Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukkan Bani Umayyah di
Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di
Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahman
al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausath, Muhammad ibn
Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada
periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik
dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman
al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota
besar Spanyol. Hisyam I dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam,
dan Hakam I dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah
yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman
al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat
juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman
al-Aushath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk
datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai
semarak.
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan
terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan
munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan. Namun, Gereja
Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan
itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk
Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum
Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan
mendirikan gereja baru, biara-biara disamping asrama rahib atau lainnya.
Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau
menjadi karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang
paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan
pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang
berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas
membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan
yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan
dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan
orang-orang Arab masih sering terjadi.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang
bergelar An-Nasir sampai munculnya "raja- raja kelompok" yang dikenal
dengan sebutan Muluk al-Thawaij. Pada periode ini Spanyol diperintah
oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut
bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa
Al-Muktadir, Khalifah daulat Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia
dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini
menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam
kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat
untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani
Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai
tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini
ada tiga orang, yaitu Abdurrahman al-Nashir (912-961 M), Hakam II
(961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat
Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan
daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman al-Nashir mendirikan
universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.
Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa
ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.
Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah
Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia
sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para
pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai
pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang
berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam
dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas
keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia
wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang
masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah
wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki
kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang
tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada
tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba
untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan.
Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova
menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam
banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara
kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth
Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo,
dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville.
Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian
intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara
pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja
Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik
Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini
mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak
stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini.
Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan
perlindungan dari satu istana ke istana lain.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa
negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan
daulah Murabithun (860-1143 M) dan daulah Muwahhidun (1146-1235 M).
Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan politik yang
didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia
berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakisy. Ia masuk
ke Spanyol atas "undangan" penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah
memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari
serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki
Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Karena
perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh
untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi,
penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada
tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara
maupun di Spanyol dan digantikan oleh daulah Muwahhidun. Pada masa
daulah Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun
1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul
kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada
tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara
merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w.
1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun'im.
Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova,
Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya.
Untuk jangka
beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan
Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu,
Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen
memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan
yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk
meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan
Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam
kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan
Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan
penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali
Granada lepas dari kekuatan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah
dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan
seperti di zaman Abdurrahman an-Nashir. Akan tetapi, secara politik,
dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang
merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena
perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu
Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk
anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan
berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh
dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta
bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa
Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik
tahta.
Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua
kerajaan besar Kristen melalui perkimpoian itu tidak cukup merasa puas.
Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu
Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut
dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada
Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara.
Dengan
demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam
setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi
meninggal Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi
umat Islam di daerah ini.
Kemajuan Peradaban
Umat
Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi
yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia
kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan
intelektual. Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di
Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi
yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian
dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.
1. Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan
penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan
pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang
terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun
(orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal
dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara
Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual
kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen
Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran
Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham
intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang
melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
a. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat
brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada
abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai
dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah
yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif
al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari
Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan
universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama
ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin
dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan
filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama
dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa,
ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fezzan
tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti al-Farabi dan Ibn Sina
di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis.
Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu
Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah
timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak
menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya
yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad
ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang
terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari
Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya
adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan
kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang
keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya
Bidayatul- Mujtahid.
b. Sains IImu-ilmu
kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga
berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan
astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat
menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa
lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan
jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova
adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja'far dan
saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari
kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam
bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari
Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania
dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai
Samudera Pasai dan Cina. Ibnul Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat
Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunisia adalah perumus filsafat
sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang
kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang
sains.
c. Fiqh Dalam bidang fiqh, Spanyol
Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan
madzhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman. Perkembangan
selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa
Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu
Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa'id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang
terkenal.
d. Musik dan Kesenian Dalam bidang
musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya
al-Hasan Ibn Nafi' yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan
pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya.
Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu
diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada
budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam
di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam.
Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka
juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan
berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn
Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibnul-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu
al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan
bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-'Iqd al-Farid
karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn
Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi
yang lain.
Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam
sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun.
Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada
masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam,
kanal-kanal, saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air
didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah
air.
Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk
tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk
(kolam) dibuat untuk konservasi (penyimpanan air). Pengaturan hydrolik
itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia
yang dinamakan naurah (Spanyol: Noria). Disamping itu, orang-orang Islam
juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan
taman-taman.
Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga
merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya adalah
tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar. Namun
demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah
pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid,
pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah
masjid Cordova, kota az-Zahra, Istana Ja'fariyah di Saragosa, tembok
Toledo, istana al-Makmun, masjid Seville, dan istana al-Hamra di
Granada.
a. Cordova Cordova adalah ibu kota
Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah.
Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar
dibangun di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman
dibangun untuk menghiasi ibu kota Spanyol Islam itu. Pohon-pohon dan
bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibu kota berdiri
istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap
istana dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang
istana Damsyik. Diantara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah masjid
Cordova. Menurut ibn al-Dala'i, terdapat 491 masjid di sana. Disamping
itu, ciri khusus kota-kota Islam adalah adanya tempat-tempat pemandian.
Di Cordova saja terdapat sekitar 900 pemandian. Di sekitarnya berdiri
perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat
diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang
panjangnya 80 Km.
b. Granada Granada adalah
tempat pertahanan terakhir ummat Islam di Spanyol. Di sana berkumpul
sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih
oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol.
Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana
al-Hambra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian
arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak
kalah indahnya. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa
diperpanjang dengan kota dan istana az-Zahra, istana al-Gazar, menara
Girilda dan lain-lain.
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan
Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya
penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan
kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman
al-Wasith dan Abdurrahman an-Nashir. Keberhasilan politik
pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan
penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang
terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini
adalah Muhammad ibn Abdurrahman (852-886M) dan al-Hakam II al-Muntashir
(961-976M).
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa
terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut
berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk
orang-orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan
hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka
masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk,
terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan
ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja
sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.
Meskipun ada
persaingan yang sengit antara Abbasiyyah di Baghdad dan Umayyah di
Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa
peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan
perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil
membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa
meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat
apa yang disebut kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik
pada masa Muluk ath-Thawa'if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya
peradaban. Masa itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan,
kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti (raja) di Malaga,
Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova.
Kalau sebelumnya Cordova merupakan satu-satunya pusat ilmu dan peradaban
Islam di Spanyol, Muluk ath-Thawa'if berhasil mendirikan pusat-pusat
peradaban baru yang diantaranya justru lebih maju.
Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di Eropa
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap
peradaban Islam, baik dalam hubungan politik, sosial, maupun
perekonomian dan peradaban antar negara. Kemajuan Eropa yang terus
berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu
pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak
saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia
dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
Spanyol
merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam,
baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan
peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa
Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara
tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains disamping
bangunan fisik. Yang terpenting diantaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd
(1120-1198 M). Ia melepaskan belenggu taqlid dan menganjurkan kebebasan
berpikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat
minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah
menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme
Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul
gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir.
Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme
ini.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian
lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.
Buku-buku Ibn Rusyd dicetak di Venessia tahun 1481, 1482, 1483, 1489,
dan 1500 M. Bahkan edisi lengkapnya terbit pada tahun 1553 dan 1557 M.
Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 M di Napoli, Bologna,
Lyonms, dan Strasbourg, dan di awal abad ke 17 M di Jenewa. Pengaruh
peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa
berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di
universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova,
Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol,
mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.
Pusat
penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka
mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas di Eropa
adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh
tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru
berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu
yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan,
seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat
yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran al-Farabi, Ibn Sina dan
Ibn Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah
berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan
kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-1 4 M.
Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui
terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan
kembali ke dalam bahasa Latin. Walaupun Islam akhirnya terusir dari
negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidangi
gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah:
kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad
ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M,
rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklaerung) pada abad
ke-18 M.
Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasasaan Islam di Spanyol, umat
Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka
peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada
kemajuan yang lebih kompleks. Setelah berakhirnya periode klasik Islam,
ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari
keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang
politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam
dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah
yang mendukung keberhasilan politiknya.
Kemajuan-kemajuan Eropa
ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari
Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika
Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam
yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu,
orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan tinggi-perguruan
tinggi Islam di sana. Islam menjadi "guru" bagi orang Eropa. Karena itu,
kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
Penyebab Kemunduran dan Kehancuran
Beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran Umat Islam di Spanyol di
antaranya konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu,
kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, dan
keterpencilan.
1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa
muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa
puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen
taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka,
termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan
bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa
kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan
negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara
Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan
pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau
di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam
yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani
Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang
pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi
istilah 'ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan
yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab
yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu
mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri
tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi
makna persatuan, disamping kurangnya figur yang dapat menjadi
personifikasi ideologi itu.
3. Kesulitan Ekonomi
Di paruh
kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat "serius", sehingga lalai
membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat
memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan militer
4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal
ini menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Bahkan, karena
inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk ath-Thawaif muncul.
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh
ke tangan Ferdinand dan Isabella, diantaranya juga disebabkan
permasalahan ini.
5. Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan
terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian,
tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak
ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di
sana.(Wallahul musta’an).